Our Designer Friend; Ary Indra
Published: February 5, 2015Melihat di Luar Arsitektur
Nama Ary Indra bukanlah nama yang asing di dunia arsitektur Indonesia. Sebagai salah satu arsitek utama pendiri Aboday, pria yang biasa disapa Ary ini juga disibukkan dengan beberapa kegiatan lainnya seperti menjadi pembicara dan juga pengajar di sebuah universitas. Pengalamannya berkarir tak perlu lagi dipertanyakan. Sepuluh tahun di luar negeri dan sembilan tahun berkiprah di Indonesia membuatnya bisa dibilang sosok yang tak hanya mumpuni, tapi juga menjadi saksi perkembangan arsitektur Indonesia.
Sejak mendirikan Aboday bersama dua rekannya di awal 2006, Ary tak pernah lepas dari berbagai proyek besar yang kini sudah melambungkan namanya. Namun demikian, di 2015 ini Ary punya rencana yang sedikit berbeda, yakni kembali pada hal-hal yang “belum sempat” ia kejar.
“Saya sekedar ingin kembali mengejar hal-hal yang saya sukai. Contohnya musik, benar-benar berhenti main piano karena tidak punya waktu tapi sekarang bisa dilanjutkan lagi,” jelasnya.
Lalu bagaimana dengan Aboday?
Ary mengakui, meskipun ia kini menyibukkan diri dengan hobi tak lantas membuatnya melepaskan Aboday begitu saja. Kini ia lebih memposisikan dirinya sebagai “sutradara” dari Aboday, mengawasi dan mengarahkan timnya dalam mengerjakan proyek. Selain itu, Ary juga tetap mengerjakan beberapa proyek lain yang tentu saja tak lepas dari bidang arsitektur. Contohnya adalah proyek pengerjaan desain panggung untuk keperluan konser seorang musisi tanah air. Meskipun bukan berupa bangunan seperti proyek Ary lainnya, tapi tugas mendesain panggung ini diakuinya menyenangkan untuk dikerjakan karena masih berkaitan dengan merancang dan mendesain.
“Saya tidak bisa lepas dari arsitektur. Karena saya tidak bisa melakukan hal lain selain arsitektur, dan bagi saya ini justru seperti kekurangan,” paparnya sambil tertawa.
Arsitektur Indonesia sudah sampai mana?
Bagi Ary, arsitektur Indonesia sudah mengalami banyak perkembangan yang signifikan dan semakin bagus. Ia melihat, perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh arsitek-arsitek muda yang punya karya bagus. Para arsitek muda Indonesia punya kesadaran untuk berfokus pada bidang ini sejak usia sedini mungkin. Namun ada kekurangan yang masih Ary temukan pada para penerus dunia arsitektur ini.
“Saya sendiri baru mulai serius berkarir sebagai arsitek di usia 30. Sebelum itu, saya menghabiskan enam tahun untuk bergaul saja,” ujarnya. Namun ternyata hal ini justru membawa dampak positif baginya dalam berkarir, yakni membuatnya berkembang. Ia membandingkannya dengan banyak mahasiswa yang tidak bisa optimal dalam berkarya, karena kurang bergaul dan terkesan kehilangan kenakalan mereka sendiri. “Mereka juga terlalu terpengaruh oleh banyak hal, contohnya kemajuan teknologi informasi. Mereka jadi terbiasa ‘disuapi’ bukan mencari sendiri. Ini mempengaruhi cara mereka dalam berkarya dan mencari tahu,” jelasnya.
Apa harapan Ary untuk para penerus arsitektur Indonesia?
“Seorang arsitek sebaiknya tidak sibuk sendiri, harus bisa melihat lebih luas, melihat ke aspek lain. Contohnya melihat ke profesi atau kehidupan lain di luar arsitektur itu sendiri, agar tidak menjadi jurang yang mematikan bagi si arsitek itu dalam berkarya,” jelasnya lugas.
Hal ini ia contohkan pada sebuah proyek yang saat ini sedang berlangsung di ibukota. Proyek yang terkesan sederhana namun penting, yakni pembuatan toilet di sebuah ruang publik oleh arsitek Indonesia. Tak ada yang sebelumnya menyadari betapa pentingnya aspek kecil tersebut. Padahal, hal-hal sederhana inilah yang dapat memunculkan inisiatif untuk berkarya. Karena itu, Ary sangat berharap akan ada lebih banyak arsitek yang membuka kacamata di luar arsitektur itu sendiri.
Comments




